PALANGKA RAYA- Pemerintah kota (Pemko) Palangka Raya memetakan lima strategi utama guna mendukung tema pembangunan Akselerasi Ekonomi dan Infrastruktur pada tahun 2027.
Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Palangka Raya yang digelar di Aula Palampang Tarung, Kamis, (12/3/2026),
Strategi ini dipaparkan sebagai peta jalan untuk memastikan setiap usulan masyarakat dapat terwujud dalam program kerja yang konkret dan berdampak luas.
Penguatan investasi daerah dan percepatan pembangunan infrastruktur ekonomi menjadi fokus strategi utama pemerintah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Palangka Raya, Fauzi Rahman menekankan bahwa iklim investasi yang sehat akan menjadi mesin penggerak utama ekonomi kota.
“Hal ini akan didukung dengan penyediaan infrastruktur yang mumpuni, mulai dari akses jalan hingga fasilitas pendukung lainnya, demi mempermudah konektivitas dan distribusi barang serta jasa,” ujarnya.
Selain pembangunan fisik, Pemko Palangka Raya juga memberikan perhatian serius pada pengembangan ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata.
Strategi ketiga ini diarahkan untuk menggali potensi lokal agar mampu bersaing di kancah nasional.
Dengan memperkuat ekosistem kreatif, pemerintah berharap sektor pariwisata tidak hanya menjadi objek kunjungan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
“Peningkatan kualitas hidup masyarakat tetap menjadi fondasi utama melalui strategi perbaikan layanan dasar,” ucapnya.
Pemko berkomitmen untuk memastikan akses kesehatan, pendidikan, dan air bersih dapat dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Perbaikan layanan ini dinilai krusial sebagai jaring pengaman sosial di tengah upaya pemerintah melakukan akselerasi ekonomi di berbagai sektor pembangunan.
Melengkapi aspek pembangunan manusia, strategi kelima adalah penguatan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM).
Investasi pada kualitas manusia melalui pelatihan keterampilan dan pendidikan vokasi diharapkan dapat menciptakan tenaga kerja yang kompetitif.
Hal ini menjadi kunci agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan aktif sebagai aktor utama dalam roda perekonomian yang akan dipacu pada 2027 mendatang. (*/Vi)





